Social Icons

Pages

Featured Posts

Rabu, 22 Januari 2025

Penggunaan Frasa "Out of......... " seperti Out of order.

Frasa yang memiliki pola kata "out of [sesuatu]". Berikut beberapa contohnya:

1. Out of stock - kehabisan stok/persediaan
2. Out of time - kehabisan waktu
3. Out of date - kadaluarsa/tidak up to date
4. Out of place - tidak pada tempatnya/tidak sesuai
5. Out of control - tidak terkendali
6. Out of bounds - di luar batas
7. Out of sight - tidak terlihat
8. Out of mind - lupa/tidak terpikirkan
9. Out of touch - kehilangan kontak/tidak update
10. Out of practice - kurang latihan/tidak terbiasa
11. Out of luck - sedang sial/tidak beruntung
12. Out of fashion - ketinggalan zaman
13. Out of focus - tidak fokus/buram
14. Out of range - di luar jangkauan
15. Out of balance - tidak seimbang

Ada ungkapan terkenal yang menggabungkan dua frasa ini: "Out of sight, out of mind" yang artinya bila sesuatu tidak terlihat, maka akan mudah dilupakan.
contoh penggunaan masing-masing frasa dalam kalimat:

1. Out of stock
"Sorry, the iPhone 15 is out of stock right now. Would you like to join the waiting list?" 
(Maaf, iPhone 15 sedang habis stok. Apakah Anda ingin masuk daftar tunggu?)

2. Out of time
"We're out of time - the exam needs to be submitted now!"
(Waktu kita habis - ujiannya harus dikumpulkan sekarang!)

3. Out of date
"This milk is out of date - it expired last week."
(Susu ini sudah kadaluarsa - sudah expired minggu lalu.)

4. Out of place
"She felt out of place at the formal dinner in her casual clothes."
(Dia merasa tidak pada tempatnya di makan malam formal dengan pakaian casualnya.)

5. Out of control
"The forest fire is out of control and spreading rapidly."
(Kebakaran hutan tidak terkendali dan menyebar dengan cepat.)

6. Out of bounds
"The ball landed out of bounds, so it's the other team's turn."
(Bolanya mendarat di luar batas, jadi giliran tim lawan.)

7. Out of sight
"Keep your valuables out of sight when parking your car."
(Simpan barang berharga Anda agar tidak terlihat saat memarkir mobil.)

8. Out of mind
"I've been so busy, the appointment completely slipped out of mind."
(Saya sangat sibuk sampai benar-benar lupa janji temu itu.)

9. Out of touch
"After living abroad for 10 years, he's out of touch with local trends."
(Setelah tinggal di luar negeri selama 10 tahun, dia tidak update dengan tren lokal.)

10. Out of practice
"I haven't played piano in years - I'm really out of practice."
(Saya tidak main piano bertahun-tahun - saya sangat tidak terlatih.)

11. Out of luck
"The concert is sold out - looks like we're out of luck."
(Konsernya sudah sold out - sepertinya kita sedang tidak beruntung.)

12. Out of fashion
"Wide-leg jeans were out of fashion for years, but now they're back."
(Celana jeans lebar sudah lama ketinggalan zaman, tapi sekarang kembali tren.)

13. Out of focus
"This photo is out of focus - can we take another one?"
(Foto ini buram - bisakah kita ambil foto lagi?)

14. Out of range
"I can't call you from the mountains - my phone is out of range."
(Saya tidak bisa menelepon Anda dari gunung - ponsel saya di luar jangkauan.)

15. Out of balance
"The washing machine is making noise because the load is out of balance."
(Mesin cuci berisik karena muatannya tidak seimbang.)



Kata dalam bahasa Inggris yang pengucapannya berbeda dengan tulisannya.

Ada banyak kata dalam bahasa Inggris yang pengucapannya berbeda dengan tulisannya karena aturan fonetik yang tidak konsisten. Berikut 3 contohnya:  

1. Colonel  
   - Tulisan: Colonel  
   - Pengucapan: /ˈkɜːrnl/  
   (Pengucapannya seperti "kernel.")  

2. Wednesday  
   - Tulisan: Wednesday  
   - Pengucapan: /ˈwɛnzd(eɪ)/  
   (Huruf "d" hampir tidak terdengar.)  

3. Debt  
   - Tulisan: Debt  
   - Pengucapan: /dɛt/  
   (Huruf "b" tidak diucapkan.)  

Konsistensi ini sering menjadi tantangan bagi pembelajar bahasa Inggris.
Beberapa contoh kata lain dalam bahasa Inggris di mana pengucapannya berbeda dari tulisannya:  

1. Knife 
   - Tulisan: Knife  
   - Pengucapan: /naɪf/  
   - Huruf "k" tidak diucapkan.  

2. Island
   - Tulisan: Island  
   - Pengucapan: /ˈaɪlənd/  
   - Huruf "s" tidak diucapkan.  

3. Psychology 
   - Tulisan: Psychology  
   - Pengucapan: /saɪˈkɒlədʒi/  
   - Huruf "p" tidak diucapkan.  

4. Honest 
   - Tulisan: Honest  
   - Pengucapan: /ˈɒnɪst/  
   - Huruf "h" tidak diucapkan.  

Pola Umum:
- Huruf "k" sering bisu di depan "n" (e.g., knife, knee).  
- Huruf "h" sering bisu di depan vokal tertentu (e.g., honest, hour).  
- Huruf "p" sering bisu di kombinasi seperti "ps" atau "pn" (e.g., psychology, pneumonia).  


Senin, 18 November 2024

Tendinitis Rotator Cuff Akut


KONDISI BAHU DAN LENGAN ATAS
Tendinitis Rotator Cuff Akut

Kondisi ini biasanya ditemukan pada rentang usia 25 hingga 40 tahun. Nyeri bahu pasien mungkin perlu disaring secara menyeluruh karena gejalanya sering kali tidak dapat dikaitkan dengan satu cedera tertentu. Namun, pemeriksaan spesifik biasanya akan mengungkapkan bahwa pasien memiliki sejarah nyeri bahu yang terkait dengan aktivitas berulang, dan bahwa episode terburuk terjadi setelah aktivitas tersebut. Ini dapat disebut sebagai cedera penggunaan berlebih akut, karena otot supraspinatus sering kali terjepit di antara akromion dan kepala humerus ketika lengan digunakan secara berulang di atas ketinggian bahu. Hal ini menyebabkan peradangan tendon, yang pada gilirannya menyebabkan nyeri bahu akut. Jika dibiarkan dan tidak diobati, kondisi ini dapat menjadi kronis dan tidak terselesaikan. Oleh karena itu, penting untuk mengidentifikasi aktivitas yang menyebabkan gejala yang berulang, bukan hanya gejala saat ini.

Temuan Subjektif
Onset (Waktu Kejadian) 
Biasanya terjadi secara bertahap akibat penggunaan berlebih, meskipun setiap episode tertentu dapat digambarkan oleh pasien sebagai akibat dari aktivitas yang berlebihan. Rentang usia rata-rata adalah 25 hingga 40 tahun, tetapi bisa lebih muda jika pasien berpartisipasi dalam aktivitas olahraga dengan gerakan berulang, seperti bermain tenis atau melempar bola (12, 16).

Durasi
Untuk mengklasifikasikan episode ini sebagai akut, waktu sejak awitan tidak boleh lebih dari enam minggu, meskipun presentasi kondisi tersebut dapat bervariasi. Secara umum, semakin lama pasien menderita masalah ini, semakin kronis sifatnya karena proses inflamasi mendasar.

Frekuensi
Kondisi ini biasanya terjadi kembali sekali atau dua kali dalam setahun selama periode 2 hingga 3 tahun, dan sering kali terkait dengan awal musim olahraga atau pekerjaan tertentu di rumah, seperti "membersihkan mata air" (8, 12, 16).

Area Gejala
Pasien biasanya mengeluhkan gejala pada bagian anterior sendi bahu dan/atau aspek anterolateral acromion (Gambar 2.6) (3, 4).

Jenis Gejala
Nyeri sering digambarkan sebagai nyeri tumpul setelah aktivitas, dengan nyeri bahu tajam yang dilaporkan pada gerakan tertentu dari lengan (12, 14, 15).

Lain-lain
Pasien biasanya mengeluh nyeri pada aktivitas di atas kepala dan ketidakmampuan tidur di sisi yang terkena atau nyeri saat berbalik di tempat tidur. 
Gambar 2.6
Area gejala untuk tendinitis rotator cuff akut di bahu kanan.

Temuan Objektif

Observasi
Kadang-kadang pembengkakan dapat terlihat di bagian anterior bahu di bawah tepi akromion, terutama dalam beberapa hari pertama setelah awitan (waktu kejadian). Selain itu, sendi akan tampak normal (14).

Gerakan Aktif
Dalam kondisi yang benar-benar akut, rentang gerakan biasanya penuh, meskipun dalam kasus yang parah mungkin ada keterbatasan pada abduksi, rotasi medial, dan fleksi pada rentang menengah karena nyeri. Pasien tidak dapat mengangkat lengannya melewati rentang menengah selama beberapa hari (1, 11, 15).

Gerakan Pasif
Hasil dari pengujian gerakan pasif akan sama seperti pada gerakan aktif dalam hal nyeri dan setiap kemungkinan keterbatasan gerakan (1, 11, 13, 15).

Teknik dalam Rehabilitasi Muskuloskeletal

Gerakan Tertahan (Resisted Movements):
Seharusnya terdapat kekuatan penuh pada gerakan, terutama jika diuji dalam posisi awal yang bebas nyeri, seperti dengan lengan di sisi tubuh. Mungkin terdapat kelemahan jika abduksi diuji pada 90 derajat, dan gerakan yang tertahan dengan kuat cenderung menimbulkan ketidaknyamanan di daerah bahu karena tekanan pada rotator cuff saat ia menstabilkan sendi bahu. Dalam kasus yang sangat akut, abduksi tertahan mungkin menyakitkan jika supraspinatus adalah tendon yang bermasalah, rotasi lateral mungkin tidak nyaman jika infraspinatus yang terlibat, dan adduksi dapat menyebabkan rasa sakit saat otot subscapularis terpengaruh.  

Palpasi:
Tali yang lembut, tendon penyisipan dari supraspinatus, sering dapat dipalpasi di bawah bagian anterior dari tepi akromial. Ini paling mudah dipalpasi selama rotasi medial dan lateral pasif dari bahu dengan lengan pada sekitar 30 derajat abduksi.  

Tes Khusus (Specific Tests):
Tidak jarang pasien mengalami rasa sakit pada rentang gerakan antara 60 dan 120 derajat abduksi.  

Perawatan Awal:
Percobaan dengan es dan istirahat sering kali bermanfaat pada tahap awal. Sangat penting untuk meminta pasien menghindari aktivitas tertentu yang tampaknya menjadi penyebab kekambuhan gejala. Istirahat *tidak* boleh mengecualikan semua gerakan bahu, karena latihan gerak dalam batas bebas nyeri akan membantu mengurangi kemungkinan kondisi menjadi masalah kronis.  

Penggunaan modalitas yang mendukung proses perbaikan tubuh juga bisa bermanfaat. Namun, modalitas yang menghasilkan panas jaringan tidak dianjurkan saat es digunakan sebagai agen anti-inflamasi. Tahap perawatan ini harus dilanjutkan selama setidaknya 2 hari, dan jika pasien menunjukkan kemajuan, tidak ada alasan untuk tidak melanjutkannya selama 6 atau 7 hari lagi. Jika penggunaan es tidak bermanfaat dalam 2 atau 3 hari pertama, maka melanjutkan pendekatan ini mungkin tidak efektif dalam jangka panjang.  

Apakah penggunaan es efektif atau tidak, kemajuan latihan tetap sama. Aplikasi panas kini dapat digunakan sebelum latihan untuk membuat pasien rileks dan latihan menjadi kurang tidak nyaman. Lanjutkan latihan aktif untuk semua gerakan bahu dengan pasien, memastikan setiap gerakan dilakukan hingga batas bebas nyeri, namun tidak menimbulkan rasa sakit. Latihan resistensi isometrik dalam rentang bebas nyeri untuk fleksi dan ekstensi sering kali bermanfaat, dengan kemajuan pada rotasi resistif, abduksi, dan adduksi selama pasien dapat mentoleransi latihan tersebut. Latihan ini dapat ditingkatkan menjadi pekerjaan resistensi isotonik dalam rentang yang tersedia seiring berkurangnya gejala.
---

Sabtu, 19 Oktober 2024

SINTA (SCIENCE AND TECHNOLOGY INDEX)

Sinta (Science and Technology Index) adalah sistem informasi yang dikembangkan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Indonesia untuk mengukur, memonitor, dan mengevaluasi kinerja peneliti, institusi, dan publikasi ilmiah di Indonesia. Platform ini diluncurkan untuk meningkatkan transparansi dalam penilaian kinerja akademik serta mendorong peningkatan kualitas penelitian di Indonesia.


Penjelasan Sinta

Sinta adalah platform digital yang mencatat publikasi akademik, sitasi, H-indeks, dan berbagai metrik lain yang relevan untuk mengukur dampak penelitian. Sistem ini terintegrasi dengan beberapa basis data ilmiah terkemuka, seperti Google Scholar, Scopus dan Web of Science, yang memungkinkan peneliti untuk memonitor kinerja akademik mereka di satu tempat.

Tujuan Utama Sinta
1. Evaluasi Kinerja Akademik
Sinta digunakan oleh pemerintah dan lembaga pendidikan untuk menilai produktivitas ilmiah dan dampak penelitian yang dihasilkan oleh dosen, peneliti, dan universitas.

2. Meningkatkan Kualitas Riset: Dengan memberikan penilaian berdasarkan indikator yang jelas, Sinta mendorong peneliti dan institusi untuk meningkatkan kualitas publikasi dan kontribusi ilmiah mereka.

3. Pengakuan Internasional
Sinta membantu peneliti Indonesia mendapatkan pengakuan di kancah internasional dengan menghubungkan data mereka ke platform internasional seperti Scopus dan Web of Science.

Fitur-Fitur Sinta

1. Pengukuran Kinerja Individu dan Institusi
   Sinta memungkinkan peneliti dan institusi untuk memantau kinerja mereka berdasarkan beberapa indikator utama, termasuk:
   - Publikasi Ilmiah: Jumlah karya yang telah dipublikasikan di jurnal nasional dan internasional yang terakreditasi.
   - Sitasi
Jumlah sitasi yang diterima oleh publikasi peneliti. Semakin sering karya tersebut dikutip oleh peneliti lain, semakin tinggi nilainya.
   - H-indeks dan G-indeks
Indikator ini mengukur produktivitas dan dampak dari karya ilmiah yang dihasilkan oleh peneliti.
   - Kolaborasi Riset: 
Melacak tingkat kolaborasi penelitian baik di dalam negeri maupun secara global.

2. Integrasi dengan Database Eksternal
   Sinta terhubung dengan database besar seperti:
   - Scopus: Salah satu basis data ilmiah terbesar di dunia yang mencakup jurnal internasional terkemuka.
   - Google Scholar: Indeks literatur ilmiah yang mencakup berbagai format publikasi (artikel, buku, tesis).
   - Web of Science: Platform yang menyediakan informasi terkait jurnal dan sitasi di seluruh dunia.
   
   Dengan integrasi ini, peneliti Indonesia dapat melacak kinerja mereka di tingkat internasional.

3. Pengukuran dan Penilaian Institusi  
   Selain penilaian individu, Sinta juga memberikan peringkat kepada universitas dan lembaga riset berdasarkan kinerja publikasi dan penelitian mereka. Institusi dapat membandingkan diri dengan universitas lain dan melihat area yang memerlukan peningkatan.

4. Fitur Dashboard dan Pelaporan
   Peneliti, dosen, atau institusi dapat mengakses dashboard interaktif yang memudahkan pemantauan kinerja secara real-time. Fitur ini menyediakan laporan rinci tentang jumlah publikasi, sitasi, indeks H, dan indeks G yang dapat digunakan untuk evaluasi dan peningkatan strategi penelitian.

5. Penilaian dan Penghargaan
   Sinta digunakan sebagai salah satu alat penilaian untuk berbagai penghargaan dan insentif yang diberikan oleh pemerintah kepada peneliti dan institusi. Peneliti dengan kinerja yang tinggi mungkin layak mendapatkan hibah penelitian, kenaikan jabatan akademik, atau penghargaan lainnya.

Kegunaan Sinta

1. Bagi Peneliti
   - Menyediakan data terkini tentang kinerja publikasi mereka dan memungkinkan mereka memantau perkembangan sitasi dan dampak penelitian.
   - Meningkatkan visibilitas karya mereka di komunitas ilmiah nasional dan internasional.
   - Membantu dalam pengajuan kenaikan pangkat dan jabatan akademik.

2. Bagi Universitas dan Lembaga Penelitian
   - Memantau kinerja akademik dosen dan peneliti untuk evaluasi dan pengembangan kualitas riset.
   - Mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dalam produktivitas penelitian untuk perencanaan strategis.
   - Berpartisipasi dalam kompetisi global dan memperkuat reputasi universitas di tingkat internasional.

3. Bagi Pemerintah
   - Menggunakan Sinta untuk memantau dan mengevaluasi kinerja riset nasional, yang berperan penting dalam pembuatan kebijakan.
   - Mendukung pemberian insentif dan penghargaan kepada peneliti, dosen, atau institusi yang berkinerja tinggi.

4. Bagi Industri
   - Sinta bisa digunakan oleh industri untuk menemukan peneliti atau universitas dengan keahlian tertentu yang relevan dengan proyek industri.
   - Industri dapat bermitra dengan peneliti berdasarkan kualitas dan dampak penelitian yang dihasilkan.

Kategori Peringkat Jurnal di Sinta

Sinta juga memeringkat jurnal yang terdaftar dalam platform ini dengan skala **S1 hingga S6**, di mana:
- S1 dan S2: Merupakan jurnal yang sudah terakreditasi secara nasional dan internasional, dengan kualitas sangat tinggi.
- S3 dan S4: Jurnal nasional terakreditasi, namun belum memiliki standar internasional.
- S5 dan S6 Jurnal nasional yang baru berkembang dan belum terakreditasi.

Kesimpulan
Sinta adalah alat yang esensial untuk mengukur, memantau, dan meningkatkan kinerja penelitian di Indonesia. Dengan fitur-fitur seperti integrasi ke basis data internasional, pemantauan kinerja peneliti, dan peringkat institusi, Sinta membantu meningkatkan kualitas penelitian di Indonesia dan mendorong peneliti untuk berkompetisi di kancah global.

Sabtu, 03 Agustus 2024

Metode dan teknik latihan fisioterapi untuk keseimbangan.

  1. Latihan Keseimbangan Statis

    • Berdiri dengan Satu Kaki: Pasien berdiri dengan satu kaki selama beberapa detik hingga beberapa menit.
    • Berdiri di Atas Permukaan Tidak Stabil: Menggunakan bosu ball atau foam pad untuk meningkatkan tantangan.
  2. Latihan Keseimbangan Dinamis

    • Berjalan di Garis Lurus: Berjalan di sepanjang garis lurus di lantai.
    • Berjalan Sambil Mengubah Arah: Berjalan sambil melakukan perubahan arah secara tiba-tiba.
  3. Latihan Keseimbangan Fungsional

    • Transfer Berat Badan: Menggeser berat badan dari satu kaki ke kaki lainnya.
    • Latihan Transfer: Mengangkat dan memindahkan objek dari satu tempat ke tempat lain.

Metode Latihan Koordinasi

  1. Latihan Mata-Tangan

    • Menangkap dan Melempar Bola: Melakukan latihan melempar dan menangkap bola dengan berbagai ukuran.
    • Latihan dengan Objek Kecil: Memanipulasi objek kecil seperti bola tenis atau kelereng untuk meningkatkan keterampilan motorik halus.
  2. Latihan Mata-Kaki

    • Menggulung Bola dengan Kaki: Menggulung bola menggunakan telapak kaki.
    • Latihan dengan Rintangan: Menggunakan rintangan kecil yang harus dilangkahi atau dilewati.
  3. Latihan Kesadaran Tubuh

    • Tai Chi: Latihan yang melibatkan gerakan lambat dan terkontrol, baik untuk keseimbangan dan koordinasi.
    • Yoga: Latihan pose yoga yang menekankan keseimbangan dan kontrol pernapasan.

Alat Bantu dan Peralatan

  1. Bosu Ball dan Stability Ball

    • Digunakan untuk latihan keseimbangan dan penguatan inti.
  2. Foam Pad dan Balance Board

    • Meningkatkan tantangan pada latihan keseimbangan.
  3. Resistance Bands

    • Menambah resistensi pada latihan untuk memperkuat otot-otot yang mendukung keseimbangan.
  4. Kettlebells dan Dumbbells

    • Digunakan untuk latihan kekuatan yang mendukung keseimbangan dan stabilitas.

Tips Penting

  1. Mulai dari Tingkat Dasar: Selalu mulai dari latihan yang sederhana dan perlahan-lahan tingkatkan intensitas dan kompleksitasnya.
  2. Konsistensi: Lakukan latihan secara teratur untuk hasil yang optimal.
  3. Pemanasan dan Pendinginan: Selalu lakukan pemanasan sebelum latihan dan pendinginan setelah latihan untuk mencegah cedera.

Metode dan teknik ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan individu dan kemampuan fisik masing-masing. Selalu konsultasikan dengan fisioterapis untuk mendapatkan program latihan yang tepat dan aman.

Jumat, 02 Agustus 2024

BODY OF KNOWLEDGE FISIOTERAPI

BODY OF KNOWLEDGE FISIOTERAPI


Fisioterapi memiliki body of knowledge yang luas dan beragam. Berikut adalah penjelasan singkat mengenai beberapa bidang utama dalam body of knowledge fisioterapi:

1. Ilmu Dasar

  • Anatomi: Pengetahuan tentang struktur tubuh manusia.

  • Fisiologi: Pemahaman tentang fungsi organ dan sistem tubuh.

  • Patologi: Studi tentang penyakit dan cedera serta dampaknya pada tubuh.

  • Biomekanika: Analisis gerakan dan gaya pada tubuh manusia.

2. Penilaian dan Diagnostik

  • Penilaian Fisik: Teknik untuk mengevaluasi kekuatan otot, rentang gerak sendi, keseimbangan, dan postur.

  • Tes Fungsional: Metode untuk menilai kemampuan fungsional pasien dalam aktivitas sehari-hari.

  • Imaging dan Tes Diagnostik: Penggunaan hasil radiologi, MRI, dan tes diagnostik lainnya untuk mendukung diagnosis.

3. Intervensi Terapeutik

  • Latihan Terapi: Program latihan yang dirancang untuk meningkatkan kekuatan, fleksibilitas, dan ketahanan.

  • Teknik Manual: Manipulasi jaringan lunak dan mobilisasi sendi untuk mengurangi nyeri dan meningkatkan fungsi.

  • Modalitas Fisik: Penggunaan panas, dingin, ultrasonik, dan elektroterapi untuk membantu proses penyembuhan.

  • Pendekatan Edukasi: Memberikan informasi dan pendidikan kepada pasien tentang kondisi mereka dan cara-cara untuk mengelola gejala dan mencegah cedera ulang.

4. Pengelolaan Nyeri

  • Teknik Pengendalian Nyeri: Strategi untuk mengurangi nyeri akut dan kronis melalui berbagai teknik terapi.

  • Pengelolaan Nyeri Multifaktorial: Pendekatan holistik untuk mengatasi nyeri dengan mempertimbangkan faktor fisik, emosional, dan lingkungan.

5. Rehabilitasi

  • Rehabilitasi Ortopedik: Penanganan cedera dan kondisi muskuloskeletal.

  • Rehabilitasi Neurologis: Penanganan kondisi yang mempengaruhi sistem saraf, seperti stroke atau cedera tulang belakang.

  • Rehabilitasi Kardiopulmoner: Program untuk memperbaiki fungsi jantung dan paru-paru setelah penyakit atau operasi.

6. Penelitian dan Pengembangan

  • Metodologi Penelitian: Pengetahuan tentang desain studi, pengumpulan data, dan analisis statistik.

  • Evidenced-Based Practice: Penggunaan bukti ilmiah terbaru dalam pengambilan keputusan klinis.

7. Etika dan Profesionalisme

  • Standar Etika: Pemahaman tentang prinsip-prinsip etika dalam praktek fisioterapi.

  • Komunikasi Efektif: Keterampilan berkomunikasi dengan pasien, keluarga, dan tim kesehatan lainnya.

8. Pengelolaan Praktek

  • Manajemen Kasus: Koordinasi perawatan pasien, termasuk penentuan prioritas intervensi dan evaluasi hasil.

  • Pengelolaan Sumber Daya: Efisiensi dalam penggunaan waktu, alat, dan tenaga kerja untuk memberikan perawatan yang optimal.

 

Senin, 29 Juli 2024

PERBEDAAN MENDASAR KONSEP BOBATH/NDT DENGAN MRP (MOTOR RELEARNING PROGRAM)

Bobath (atau Neuro-Developmental Treatment/NDT) dan Motor Relearning Program (MRP) adalah dua pendekatan yang sering digunakan dalam rehabilitasi neurologis. Meskipun keduanya bertujuan untuk meningkatkan fungsi motorik pasien, ada beberapa perbedaan mendasar antara keduanya:

1. Filosofi dasar:
   - Bobath: Berfokus pada normalisasi tonus otot dan pola gerakan melalui fasilitasi dan inhibisi.
   - MRP: Menekankan pada pembelajaran kembali keterampilan motorik melalui latihan tugas-spesifik.

2. Pendekatan terhadap gerakan abnormal:
   - Bobath: Berusaha menghambat pola gerakan abnormal.
   - MRP: Lebih toleran terhadap gerakan kompensasi, selama fungsional.

3. Peran terapis:
   - Bobath: Fisioerapis lebih hands-on, menggunakan teknik fasilitasi manual.
   - MRP: Fisioerapis lebih berperan sebagai instruktur dan pemberi umpan balik.

4. Fokus latihan:
   - Bobath: Menekankan pada kualitas gerakan dan normalisasi tonus.
   - MRP: Fokus pada pencapaian tujuan fungsional spesifik.

5. Penggunaan aktivitas fungsional:
   - Bobath: Menggunakan aktivitas fungsional, tapi sering dimulai dengan persiapan komponen gerakan.
   - MRP: Langsung menggunakan tugas fungsional sebagai basis latihan.

6. Teori pembelajaran motorik:
   - Bobath: Awalnya kurang menekankan teori pembelajaran motorik, meskipun telah berkembang.
   - MRP: Sangat didasarkan pada prinsip-prinsip pembelajaran motorik.

7. Penggunaan lingkungan:
   - Bobath: Dapat memodifikasi lingkungan untuk mendukung gerakan normal.
   - MRP: Menekankan latihan dalam lingkungan yang seautentik mungkin.

8. Pendekatan terhadap tonus otot:
   - Bobath: Berusaha secara aktif menormalkan tonus otot.
   - MRP: Kurang fokus pada manipulasi tonus secara langsung.

9. Pengulangan:
   - Bobath: Menekankan kualitas setiap repetisi.
   - MRP: Mendorong pengulangan tinggi untuk meningkatkan pembelajaran.

10. Keterlibatan pasien:
    - Bobath: Pasien dapat lebih pasif dalam beberapa teknik.
    - MRP: Sangat menekankan partisipasi aktif pasien.

11. Evaluasi:
    - Bobath: Sering menggunakan penilaian klinis Fisioterapis.
    - MRP: Lebih menekankan pada pengukuran hasil fungsional yang objektif.

12. Adaptabilitas:
    - Bobath: Lebih fleksibel dalam pendekatannya.
    - MRP: Lebih terstruktur dan protokol-driven.

Penting untuk dicatat bahwa kedua pendekatan ini telah berkembang seiring waktu dan banyak Fisioterapis modern menggunakan kombinasi dari keduanya, mengambil elemen-elemen yang paling efektif dari masing-masing pendekatan. Pilihan pendekatan sering bergantung pada kondisi spesifik pasien, preferensi Fisioterapis, dan bukti penelitian terbaru.