Social Icons

Pages

Selasa, 19 Oktober 2010

RADIOLOGY FOR PHYSIOTHERAPY

RADIOLOGI 30 April 2010


DIAGNOSIS STROKE DENGAN CT SCAN/ MRI
PENDAHULUAN
Instalasi Radiologi di RS Wahidin Sudirohusodo secara umum mempunyai 2 unit kerja yaitu Radiodiagnostik dan Radioterapi. Radiodiagnostik dalam menjalankan kegiatannya mempunyai beberapa bagIan yaitu:
Foto Polos X ray, CT scan, MRI, Ultrasonografi, sedangkan Radioterapi digunakan untuk pengobatan baik sebagai upaya kuratif misalnya tumor maupun kanker, paliatif maupun yang sifatnya emergensi misalnya untuk menghentikan perdarahan hebat.
R.Radiologi.png
JENIS-JENIS RADIODIAGNOSTIK
1. Radiografi Konvensional
Sinar X merupakan bagian dari spektrum elektomagnetik, dipancarkan akibat pengeboman anoda wolfram oleh-oleh elektron-elektron bebas dari suatu katoda. Film polos dihasilkan oleh pergerakan elektron-elektron tersebut melintasi pasien dan menampilkan film radiografik.
Tulang dapat menyerap sebagian besar radiasi, menyebabkan pajanan pada film paling sedikit,
sehingga film yang dihasilkan tampak berwarna putih. Udara paling sedikit mnyerap radiasi, menyebabkan pajanan pada film maksimal, sehingga film tampak berwarna hitam. Diantara kedua keadaan ekstrem ini, penyerapan jaringan sangat berbeda-beda menghasilkan citra dalam skala abu-abu (grey scale). Film polos bermanfaat untuk: Dada, abdomen, sistem tulang: trauma, tulang belakang, sendi, penyakit degeneratif, metabolik dan metatstatik.
Terminologi yang digunakan dalam Radiografi Sinar X :

a. Hiperradiolusen : udara bebas

b. Radiolusen : Paru normal, lemak

c. Intermediate : Soft tissue/ cairan, jantung,hepar, gnjal, ascites, urine, darah, dsb.

d. Radiopak : Ca-density / Bone density, tulang perkapuran.

e. Hyperradiopak : Metal density, logam

Contoh gambar Foto X- Ray :
Radiologi1

2. CT Scan
Pemeriksaan dengan menggunakan CT Scan dapat mendeteksi kelainan – kelainan seperti perdarahan otak, tumor otak, kelainan – kelainan tulang, kelainan di rongga dada & rongga perut dan khususnya mendeteksi kelainan pembuluh darah jantung (koroner) dan pembuluh darah umumnya (seperti penyempitan pembuluh darah ginjal, dll) Lama pemeriksaan mulai dari beberapa detik sampai 2 jam.
CT Scan menggunakan sinar X tetapi saat ekspos sinar tidak langsung mngenai film tetapi ditangkap oleh detektor diteruskan ke komputer monitor lalu ke printer. Ukuran gambar (piksel) yang didapat pada CT Scan adalah Radiodensitas ukuran tersebut menggunakan skala Houndsfield Unit (HU). HU sendiri adalah pengukuran densitas jaringan.
Jaringan HU Warna

Udara

Lemak

LCS

Otak

Darah

Tulang

-1000

-100

0

30

+100

+1000

Hitam ↓↓↓

Hitam ↓↓

Hitam ↓

Abu-abu (-)

Putih ↑↑

Putih ↑↑↑

Terminologi yang digunakan :

a. Isodens : Jaringan Otak Normal

b. Hipodens : Abses otak, infark

c. Hiperdens : perdarahan Otak

3. MRI (Magnetik Resonansi Imaging)
MRI atau Magnetic Resonance Imaging menggunakan medan magnit dan frekuensi radio, jadi tidak mengionisasi jaringan, tidak ada efek biologik. Memakai istilah isointens, hipointens, hiperintens, kekuatan magnit disebut dengan satuan TESLA (1 Tesla= 10.000 Gauss). MRI adalah suatu alat diagnostik teknologi tinggi yang digunakan untuk membuat visualisasi dari penampang tubuh manusia.
Foto MRI
Pemeriksaan MRI memakai prinsip magnetik, tidak menggunakan sinar X (tidak ada radiasi). Melalui pemeriksaan ini dapat mendeteksi kelainan – kelainan saraf & jaringan lunak seperti pada keluhan: sakit/nyeri kepala, sakit daerah punggung, pinggang, nyeri/bengkak daerah persendian, kelainan payudara, kelainan pembuluh darah, kelainan pada abdomen (perut), dll. Lama pemeriksaan 20 menit – 1.5 jam
MRI memberikan hasil yang diperlukan oleh dokter untuk menegakkan diagnosa atas penyakit yang diderita oleh pasien dan juga menentukan rencana pengobatan yang tepat sesuai dengan indikasi penyakit yang diderita oleh pasien.
a. Keuntungan menggunakan MRI :

- Tidak menggunakan sinar X,

- Tidak Merusak Kesehatan pada penggunaan

   yang tepat,

- Banyak pemeriksaan tanpa memerlukan zat

   kontras,

- Detail anatomis yang sangat baik terutama

   pada jaringan lunak,

- Dapat memperlihatkan pembuluh darah

  tanpa kontras : Magnetic resonansi

  angiography (MRA).

b. Kerugian menggunakan MRI

- Biaya operasional mahal,

- Citra yang kurang baik pada lapangan paru,

- MRI lebih sulit ditoleransi dengan waktu

   pemeriksaan yang lebih lama

  dibandingkan CT scan,

- Kontra indikasi pada pasien yang

  mengunakan pacemaker, benda asing logam

  pada mata dan penggunaan protesa logam.



4. USG (Ultrasonografi)
Pemeriksaan menggunakan gelombang suara/ultrasound untuk mendeteksi kelainan – kelainan di organ perut (hati, kandung empedu, limpa, ginjal, dll), payudara, kandungan, kehamilan, pembuluh darah, dll. Khususnya pada kehamilan, USG 3D/4D dapat melihat rupa janin seperti sebuah foto dan dapat melihat gerakan bayi yang dapat direkam dalam CD. Untuk payudara, USG biasanya dipakai untuk skrinning benjolan/keluhan pada wanita – wanita usia < 35 tahun atau sebagai pemeriksaan pelengkap dan atau lanjutan setelah dilakukan mammografi pada wanita usia > 35 tahun.
Contoh Foto USG pada ginjal (tanda panah : batu ginjal)
USG
Terminology yang sering dijumpai pada ultrasonografi antara lain:

· Isoechoic atau normoechoic, misalnya untuk

  hepar, lien, atau ginjal yang normal.

· Hypoechoic atau echopoor atau echoluscent,

  misalnya abses hepar dan tumor uterus.

· Hyperechoic atau echorich atau echodens,

  misalnya batu ginjal dan adanya kalsifikasi di

  suatu jaringan.

· Unechoic atau echofree (hitam), misalnya

  urine, ascites dan darah.

Pemeriksaan ultrasonografi biasanya ditujukan untuk kepala bayi, tiroid, mammae, jantung, organ abdomen, kebidanan dan kandungan serta pada tulang.
5. Media Kontras
Media kontras merupakan zat yang membantu visualisasi beberapa struktur selama melakukan beberapa teknik pemeriksaan radiodiagnostik, bekerja berdasarkan prinsip penyerapan sinar X, sehingga mencegah pengiriman sinar tersebut pada pasien. Zat kontras yang paling sering digunakan adalah barium sulfat yang dapat memperlihatkan bentuk saluran pencernaan dan sediaan iodine organic yang banyak digunakan secara intravena pada CT untuk memperjelas gambaran vaskuler dan berbagai organ. Agen-agen kontras juga dapat digunakan pada lokasi tertentu, misalnya:
BNO kontrast.png

· Arteriografi pada sistem arterial

· Venografi pada sistem vena

· Mielografi pada teka spinalis

· Kolangiografi pada sistem bilier

· Artrografi pada persendian

· Histerosalpingografi pada uterus dan

· Sialografi pada kelenjar saliva.


ANATOMI OTAK CT–SCAN / MRI (MAGNETIK RESONANSI IMAGING)
1. Potongan Sagital Otak MRI:
AnaOtak sagital1.png AnaOtak sagital2
2. Potongan Coronal Otak MRI
AnOtak coronal1 Anotak coronal2
3. Potongan Axial Otak MRI
AnOtak Axial1 AnOtak Axial2

Keterangan gambar:

1. Sinus Sagital sup.

3. Lobus Frontal

4. Lobus Parietal

13. Ventrikel Lateral

16. Corpus Callosum

17. A. Serebri Media

20. Foramen Monro

22. Ventrikel III

23. Sinus Frontal

31. Aqueduct Serebri

43. Arteri Basiler

44. Ventrikel IV

45. Cerebellum

48. Pons

50. Sinus Sphenoid

52. Medulla

55. Sinus Sigmoid

63. Lidah

67. Fornix

72. Thalamus

73. A. Meningeal


HASIL FOTO CT SCAN DAN MRI

CT scan dan MRI normal

Gambaran hasil foto ct-Scan normal yang memperlihatkan perbedaan densitas (udara, lemak, soft tissue dan tulang)
MRI

Hasil foto Kepala normal MRI dengan menggunakan Proton Density (PD), T1-weighted, T2 dan MRA
CT dan MRI kontras

Hasil foto ct- scan dan MRI tanpa kontras (-) dan dengan menggunakan kontrast (+) pada tumor kepala
 AVM MRI


Aneurisma.MRI
Hasil foto MRA pada kelaianan pembuluh darah “arteriouvenous malformation”  dan MRA Aneurisma
CT scan dan MRI pd pasien sama

Perbedaan hasil foto Ct scan dan MRI pada pasien yang samaLesi pd hipokampus

Gambar Kiri: CT-Scan memperlihatkan beberapa Metastase dan gambar Kanan: Gambar MRI memperlihatkan Lesi pada Hipokampus

GAMBARAN UMUM STROKE
1. Defenisi
Menurut Who Monica (Monitoring Trends and Determinants in Cardiovascular Disease Project stroke adalah manifestasi kllinik dari gangguan fungsi serebral, baik fokal maupun menyeluruh (global) yang berlangsung dengan cepat, berlangsung lebih dari 24 jam, atau berakhir dengan maut, tanpa ditemukan penyebab selain dari pada gangguan vaskuler.
2. Klasifikasi
Menurut Neurological Institute, stroke dibagi atas etiologi:
a. Stroke Iskemik atau Infark (Non Hemorrahagic Stroke) karena :

- Trombosis

- Emboli

b. Stroke Perdarahan (Hemorrhagic Stroke) yang terdiri dari:

- Perdarahan Intraserebral

- Perdarahan Sub Arachnoid

3. Vaskularisasi Otak
Otak tidak mempunyai cadangan energi, sehinga kebutuhan energi otak sangat ditentukan oleh suplai energi lewat aliran darah sistemik. Suplai darah pada otak lewat sepasang arteri karotis interna dan vertebralis, yang membentuk sistem sirkulus willisi di dasar otak.
4. Patofisiologi
Pada stroke iskemik berkurangnya aliran darah ke otak menyebabkan hipoksemia daerah regional otak dan menimbulkan reaksi-reaksi berantai yang berakhir dengan kematian sel-sel otak dan unsur pendukungnya, sedangkan pada stroke hemoragik gejala-gejala klinik yang timbul semata- mata karena kerusakan sel akibat proses hemolisis darah yang keluar dari pembuluh darah otak yang pecah merembes ke massa otak sekitarnya.
GAMBARAN CT SCAN KEPALA PENDERITA STROKE ISKEMIK / INFARK.
 Stroke infark1.png
Pada beberapa kasus, bisa ditemukan area otak tidak menunjukkan abnormalitas pada beberapa jam awal stroke, kemungkinan region yang terlalu kecil untuk dapat dilihat dengan dengan menggunakan CT Scan atau karena bagian dari otak (brainstem, cerebellum) dengan menggunakan CT Scan tidak menunjukkan bayangan yang jelas. CT Scan menunjukkan nilai positif pada stroke iskemik pada beberapa pasien dengan serangan stroke sedang sampai dengan berat setelah 2-7 hari serangan akan tetapi tanda-tanda iskemik sulit didapatkan pada 3-6 jam kejadian. Tanda-tanda infark pada CT Scan yaitu terdapat area hypodens focal, pada cortical, sub cortical, Attenuasi daerah infark berkurang (10-25 HU).

GAMBARAN CT- SCAN HAEMORAGIK STROKE
Haemoragik stroke.png Haemoragik sub arachnoid.png
Gambaran Ct Scan yang tipikal pada Perdarahan Intra serebral memperlihatkan suatu area bulat, oval atau tidak teratur tergantung lokasi dan ukurannya, batas tegas dengan peningkatan attennuasi (35-80 HU). Ukurannya bervariasi dari beberapa mm sampai lebih 500 mm persegi. Haemoragik memperlihatkan bayangan hyperdens pada gray / white matter. Pada perdarahan Sub Arachnoid Ct Scan memperlihatkan gumpalan atau lapisan darah tipis yang hyperdens juga terlihat pada sulci hemisfer.


CONTOH KASUS:

Nama : Mr XX

Umur : 50 Tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Alamat : Makassar

Diagnosis Klinis : Hemiparese sinistra susp. NHS
Hasil Foto CT – Scan:

- Tampak Hipodens pada ganglia basalis kanan

- Sulci dan Gyrus dalam batas Normal

- Tidak Tampak midline shift

- Sistem Ventrikel dan subarachnoid dalam

   batas normal

- Kalsifikasi fisiologis pada pineal body dan

  pleksus choroideus

- Tulang-tulang yang terscan intak

KESAN :
- Infark Serebri Dextra,
RENCANA INTERVENSI FISIOTERAPI

Penekanannya adalah pada contributing factor (impairment) yang mengakibatkan terjadinya gangguan aktivitas fungsional dalam list of problem.

Dibuat tujuan intervensi fisioterapi yang meliputi tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang.

Harus terukur/measurable sehingga dapat dievaluasi, achievable dan realistis serta secara fungsional sangat berarti bagi pasien/klien harus disertai:

Cara pencapaian tujuan

Alokasi waktu pencapaian

Kondisi-kondisi seputar pasien dan lingkungan yang memungkinkan tujuan tersebut dapat dicapai

KESIMPULAN DAN SARAN
1. Radiodiagnostik merupakan pemeriksaan yang sangat menunjang untuk menegakkan diagnostik suatu penyakit termasuk profesi Fisioterapi dan bisa digunakan untuk mengetahui suatu kondisi apakah sesuai dengan modalitas yang digunakan.
2. Pengetahuan ilmu Radiodiagnostik terutama yang berhubungan erat dengan kondisi-kondisi yang ditangani Fisioterapi sebaiknya semakin ditingkatkan.

Literatur:

1. Sjahrial Rasad.2008. Radiologi Diagnostik.

    Edisi dua

2. Pradip R.Patel .2002Lecture notes

    Radiologi . Edisi kedua Penerbit erlangga

3. Madyawati,2009.Kesesuaian Diagnosis

    Berdasarkan Skor Klinik Dengan Gambaran

    CT-Scan Kepala Penderita Stroke.FK-

    UNHAS.

4. Asriyani Sri,dkk.2009. Radiologi. Bahan

    Kuliah S1 Fisioterapi FK Unhas. Makassar

5. Setiawan,2008. Pemeriksaan Fisioterapi

    pada Kondisi Neuromuscular. Prodi

    Fisioterapi FK-UNHAS. Makassar.

6. Sunardi. CT –Scan dan MRI pada Sistim

    Neurologis. http://www.scribd.com

7. http://www.radiologyinfo.org

8. http://www.prep4usmle.com

9. http://www.radiology.co.uk

Kamis, 19 Agustus 2010

Physiotherapy Jantung

MANAJEMEN FISIOTERAPI PADA PASIEN CONGESTIVE HEART FAILURE

A. PENDAHULUAN
Congestive Heart Failure (CHF) atau gagal jantung kongestif secara umum didefinisikan sebagai ketidakmampuan dari jantung untuk memompa darah kesuluruh tubuh sesuai dengan kebutuhan. Pasien dengan Heart Failure mempunyai catatan yang sama bahwa pasien mengalami Fatigue dan activity intolerance. Sebelum tahun 1980 an, pasien yang mengalami Heart Failure dianjurkan beristirahat dan menghindari latihan atau aktivitas fisik, hal ini dimaksudkan untuk mengurangi demand sirkulasi darah dan meningkatkan diuresis. Akan tetapi dengan tidak beraktivitas dapat menyebabkan manifestasi sekunder dari Heart Failure diantaranya: berkurangnya kekuatan otot, menurunkan toleransi latihan dan menyebabkan pulmonary embolism.
Konsep Latihan Exercise pada pasien Heart Failure dikembangkan pada tahun 1980. Penelitian dilakukan dengan mengevaluasi keamanan dan manfaat dari program latihan dari pasien yang mengalami Heart Failure. Penelitian ini telah menunjukkan bahwa program latihan aman dan mempunyai efek yang bermanfaat bagi pasien Heart Failure. Banyak dari pasien Heart Failure yang melakukan latihan secara teratur dapat meningkatkan status fungsional dan kualitas kehidupan mereka, sebagai tambahan bahwa latihan dapat mengurangi resiko komplikasi dan mortalitas pada pasien Heart Failure. Pada orang dewasa sehat yang tidak melakukan latihan secara teratur maka akan kehilangan 1% konsumsi oksigen setiap tahunnya, dan orang yang melakukan latihan secara teratur dapat mengurangi 50% resiko terjadinya Heart Attack.
B. Klasifikasi Heart Failure
Menurut Klasifikasi New York Heart Association secara fungsional Heart Failure dibagi menjadi 4 Kelas (I-IV), yaitu:
Kelas Keterbatasan Aktivitas METs Konsumsi O2
I Tak terbatas, tanpa gejala dengan aktivitas biasa 7 atau lebih 24 cc/kg/menit atau lebih
II Timbul gejala dengan aktivitas biasa, hilang saat istirahat 5-6 17-21 cc/kg/menit
III Tanpa gejala saat istirahat, timbul gejala dengan aktifitas yang kurang dari normal. 3-4 10-14 cc/kg/menit
IV Tidak nyaman dengan aktifitas apapun, bisa timbul gejala saat istirahat. 1-2 3,5-7 cc/kg/menit
Cat: MET (Metabolic Equivalent) 1 MET= aktivitas duduk dengan kaki dan tangan menyanggah badan

C. PHYSIOTHERAPY / REHABILITASI JANTUNG
Rehabilitasi jantung yang berhasil dapat mengembalikan pasien dengan gangguan jantung pada fungsi fisiologis, psikososial, dan pekerjaan yang optimal dengan melibatkan pasien tersebut, sesegera pertolongan medis setelah terjadi serangan jantung, pada program latihan dan pendidikan multidisiplin. Tujuan Medis dari rehabilitasi jantung adalah untuk membiasakan kembali pasien jantung sehingga dapat mentoleransi aktivitas sehari-harinya, dan untuk mendidik pasien tersebut sehingga dapat membuat pilihan gaya hidup yang memodifikasi faktor resiko penyakit jantung dan mengurangi resiko kekambuhan penyakit. Tujuan lain adalah untuk memberikan pasien tersebut kepercayaan diri, stamina dan pengetahuan yang memadai untuk mencari pekerjaan, rekreasi, dan aktivitas seksual dengan aman.
Tipikalnya, para dokter dilibatkan dalam memberikan resep latihan, obat-obatan, dan modifikasi diet, namun peran para profesional tenaga kesehatan lainnya dan masalah yang dituju juga penting. Anggota Tim akan melibatkan dokter ahli jantung, Fisioterapi, Perawat, ahli psikologi, ahli gizi, ahli Farmasi.
Sebelum Suatu program rehabilitasi jantung dimulai dilakukan screening untuk menentukan pasien jantung yang bisa mengikuti latihan pada rehabilitasi jantung, serta stress testing untuk menilai Heart rate dan rhythm dan untuk menentukan beban maksimal yang bisa diterima pasien sampai menimbulkan gejala atau gangguan misalnya dyspnea atau angina sekaligus menilai physical fitness. Setelah dilakukan screening dan stress test dan pasien dinyatakan bisa mengikuti fisioterapi atau pun rehabilitasi jantung maka ditentukan Zona Latihan dengan menentukan Heart Rate Reserve (HRR) menggunakan formula Karvonen.
Menentukan Heart Rate Maximal : 220 – usia
Menentukan HRR = HR max – HR rest
Contoh:
Seorang pasien dengan usia 50 tahun, dengan Heart Rate Resting (HR rest) = 60 dpm (denyut per menit).
HR max = 220 – 50 = 170
HRR = 170 – 60 = 110
Menentukan Zona Latihan (40%-60% HRR)
0.4 x 110 + 60 = 104
0.6 x 110 + 60 = 126
Zona Latihannya adalah 104 – 126.
Fisioterapi /Rehabilitasi jantung standar memiliki tiga fase. Tiap fase memilki komponen aktivitas dan edukasi serta tujuan masing-masing, namun berbeda dalam hal lokasi dan durasi fase, jumlah pengamatan, dan intensitas aktivitas.

1. Rehabilitasi Jantung: Fase 1
Rehabilitasi Jantung fase 1 merupakan fase akut rawat inap merupakan titik awal dan pembuka dari seluruh fase lainnya. Peresepan dan permulaan aktivitas, perubahan diet dan edukasi, teknik pengelolaan stress, dan perencanaan untuk kebutuhan pekerjaan, keluarga, dan kebutuhan seksual dimulai dari tingkat ini. Fase 1 ini bertujuan menginisiasii self-care activities dan progress dari duduk ke berdiri untuk meminimalkan deconditioning effect akibat immobilisasi (1 – 3 hari setelah serangan), mempersiapkan pasien dan keluarga pasien untuk melanjutkan rehabilitasi dan aktivitas khidupan dirumah setelah cardiac event.


Step
MET
Lokasi
Aktivitas
1.
1,5
Kamar pasien
Pompa pergelangan kaki, napas dalam, PROMEX seluruh ekstremitas, makan sendiri
2.
1,5
Kamar pasien
sda, ditambah berpindah ke sisi tempat tidur dan kursi, berjalan pelan.
3.
1,5
Kamar pasien
AROMEX, stretching, berdiri dikursi, mandi, berjalan yang dipacu pelan-pelan.
4.
1,5 - 2
Ruang Perawat
Berjalan yang diawasi sejuah 75 kaki, aktivitas berpakaian.
5.
1,5 - 3
Ruang Senam
Naik tangga 2 hingga 3 tangga, ADL dalam BAK, berjalan 100 hingga 300 kaki, static bycycle tanpa tahanan selama 3 menit, warm up.
6
1,5 - 3
Ruang senam
Berjalan 500 kaki, 2 set lankah atau 8 tangga, 5 menit static bycycle,ajarkan untuk menghitung frekuensi denyut nadi.

2. Rehabilitasi Jantung: Fase 2
Pada saat pasien dikeluarkan dari Rumah Sakit program rehabilitasi jantung komprehensif beralih ke tingkat yang lebih tinggi. Tujuan Fase 2 adalah untuk membekali pasien tersebut dengan informasi dan pengalaman yang akan membuatnya mencari suatu program pengkondisian jantung dan kesejahteraan yang mandiri setelah melewati program yang terstruktur. Fase ini biasanya dalam 2 minggu setelah keluar dari Rumah Sakit, dan sesi berlangsung 1 jam perhari, 3 kali dalam seminggu selama 8 hingga 12 minggu. Fase 2 biasanya berlangsung di Rumah Sakit atau klinik. Memerlukan pengawasan dokter yang ketat, fase ini menempatkan penekanan pada latihan dan pemulihan fisik, sering pasien tersebut dipantau dengan telemetri selama latihan.
3. Rehabilitasi Jantung : Fase 3

Rehabilitasi jantung Fase 3 adalah merupakan program latihan yang dipantau oleh supervisor yang dilakukan di Rumah Sakit ataupun dalam suatu komunitas, Heart rate dan rhythm tidak lagi dipantau dengan telemetry tetapi pasien diingatkan untuk mengontrol denyut nadinya, supervisor dapat mengontrol tekanan darahnya. Tujuan dari Fase 3 ini adalah untuk melanjutkan, meningkatkan dan menjaga fitness levels yang telah dicapai selama dalam program Fase 2 diantaranya:
1. Aktivitas rekreasi, merupakan salah satu cara untuk menjaga fitness levels yang telah dicapai pada program fase.
2. Aktivitas pada 8 METs (Metabolic Equivalent):
§ Jogging kira-kira 5 mil per jam,
§ Bersepeda kira-kira 12 mil perjam.
Rehabilitasi jantung tahap 3 juga harus dipertimbangkan dengan suatu perubahan gaya hidup yang permanen, dan harus berlangsung terus dalam kehidupan orang tersebut untuk meminimalkan morbiditas dan mortalitas penyakit jantung.
Rekomendasi umum untuk latihan Fisioterapi/ Rehabilitasi jantung:
Fase Durasi Intensitas Frekuensi
Fase 1 5-10 mnt berjalan, Naik 1 tangga, mandi, berpakaian. HR(rest) + 5-20 / mnt. SBP +10-40 mmHg 3-4 kali sehari
Fase 2
Aerobik
Resistance
10-45 mnt
1 set, 8-10 latihan
10-15 Repetisi
40-70% HRR
11-13 RPE
40-70% HRR
11-13 RPE
3-5 hari/ mg
2 hari/ mg
Fase 3
Aerobik
Resistance
30-45 mnt
2-3 sets, 8-10 lat.
5-15 Rep.
40-80% HRR
11-14 RPE
40-80% HRR
11-14 RPE
Plg Krg 3 hr/mg, @hr klu bisa.
2-3 hr/mg
Cat: Resistance hanya dilakukan pd pasien resiko rendah, stabil dan direkomendasikan dokter Cardiologist,
SBP= Systolic Blood Pressure, HRR= Heart Rate Reserve, RPE Rating of Perceived Exertion

DAFTAR PUSTAKA :
1. Pina. L. Ileana,et.al.2003. Exercise and Heart Failure: A statement From the American Heart Association Committee on Exercise, Rehabilitation, and Prevention. Journal of American Heart Association.
2. Perk Joep,et.al.2007. Cardiovascular Prevention and Rehabilitation. Springer-Verlag London Limited.
3. Kisner Carolyn, et.al.2007. Theraupetic Exercise Foundations and Technigues. F.A Davis Company. Philadelphia.
4. Mackinnon T. Lauriel,et.al.2003. Exercise Management Consept and Profesional Practise. Human Kinetics. Australia.
5. Garrison.J.Susan, 1995. Handbook of Physical Medicine and Rehabilitation Basics. F.A. Davis Company. Philadelphia.
6. http://www.en.wikipedia.com. Heart Failure diakses tanggal 23 Juni 2010.

Rabu, 24 Maret 2010

Penerimaan Mahasiswa Baru UNHAS 2010-2011

Program Studi Sarjan (S1) Fisioterapi Profesi Fakultas Kedokteran UNHAS
Pendahuluan
Berdasarkan SK DIRJEN DIKTI DEPDIKNAS No. 852/D/T2008. Tanggal 13 Maret 2008, tentang ijin penyelenggaraan Program Studi Sarjana (S1) Fisioterapi Profesi pada Fakultas Kedokteran dan rekomnedasi pembukaan Program Studi Sarjana (S1) Fisioterapi Profesi dari PPSDM Kesehatan Depkes RI No. HK.03.2.4.1.03654 tanggal 16 Agustus 2007 serta Kep. Menpan No. Per/12/PAN/3/2006 tentang penngangkatan CPNS lulusan S1 dan D IV Fisioterapi tanggal 29 Maret 2006 maka Prodi Sarjana (S1) Fisioterapi Fakultas Kedokteran UNHAS menerima calon Mahasiswa Baru untuk mendukung peningkatan kualitas tenaga Fisioterapi di Indonesia dalam rangka mewujudkan pelayanan pprofesional, holistik dan prima untuk mengatasi masalah gerak dan fungsi gerak yang prevalensi  sekitar 60% dari total keluhan manusia.
V i s i
Pada tahun 2015 menjadi pusat 2015 menjadi pusat pendidikan tenaga Fisioterapi unggul sebagai penghasil tenaga Fisioterapi Profesional Berdedikasi dan bermoral tinggi serta mampu eksis di Era Globalisasi.
Tujuan Pendidikan
Sesuai dengan tujuan Pendidikan Fisioterapi sebagai Pendidikan Prfesional bertujuan untuk mendidik peserta didik melalui PBM untuk menyelesaikan suatu kurikulum sehungga mempunyai cukup pengetahuan, keterampilan dan sikaqp untuk:
  1. Melaksanakan Profesi Fisioterapi secara bertanggunng jawab dalam sistem pelayanan kesehatan, Fisioterapi sampai ketingkat kerumuitan tertentu secara mandiri kepada individu, keluarga dan komunitas berdasarkan etika Fisioterapi.
  2. Mengelolah Pelayanan Fisoterapi Profesional dengan menunjukkan sikap kepemimpinan yang bertanggung jawab.
  3. Mengelolah kegiatan penelitian Fisioterapi dan menggunakan penelitian serta perkembangan IPTEK untuk meningkatkan mutu dan jangkauan Layanan Kemitraan Fisioterapi.
  4. Berperan serta aktif dalam mendidik dan melatih calon Fisioterapi dan Fisioterapi Profesi serta berpartisipasi dalam peningkatan jenjang pendidikan lanjut Fisioterapi dan Lembaga Pengembangan Program Pendidikan tenaga kesehatan lainnya.
  5. Mengembangkan diri secara kontinyu untuk menigkatkan kemampuan profesional, kepribadian serta sikap yang sesuai dengan Etika Profesi Fisioterapi dalam melaksanakan profesinya.
  6. Berfungsi sebagai anggota masyarakat yang kreatif, produktif, terbuka u tuk menerima perubahan serta berorientsi ke masa depan.
Sistem Pendidikan
Di bagi dalam dua tahapan dalam satu paket yang tidak terpisahkan sesuai rekomendasi IFI No. R.161/III/2006/IFI tentang gelar dan sebutan yaitu:
1. Tahap akademik dengan gelar Sarjana Fisioterapi “S.Ft”
2. Tahap profesi dengan sebutan “Physio”
K u r i k u l u m
 Program A
1. Tahap Akademik : 146 SKS selama Tujuh/ Delapan Semester
2. Tahap Profesi     : 32 SKS selama dua semester
Program B
1. Tahap Akademik   : 63 SKS selama 3 semester
2. Tahap Profesi       : 32 SKS selama dua semester
S e l e k s i
* Program A Melalui SPMB 2010
* Program B Melalui Seleksi khusus
P e r s y a r a t a n:     
* Program A sesuai persyaratan SPMB
* Program B melalui seleksi khusus.
1. Foto copy ijazah AKFIS/ D.III FT yang telah dilegalisir.
2. Pas photo ukuran 4x6 Hitam Putih sebanyak 4 lembar
3. Jika diterima menyusul
    - Foto copy transkrip nilai yang telah dilegalisir
    - Surat izin / tugas belajar dari instansi asal calon peserta yang sudah
      bekerja.
Pendaftaran :
Program A (SMU) Melalui SPMB
Program B (Seleksi Khusus)
Tempat Seleksi khusus : Program Studi Fisioterapi
Gedung Fakultas Kedokteran UNHAS Lantai 3
Kampus UNHAS Tamalanrea
Jl. Perintis Kemerdekaan Km.10 Makassar
Telp. (0411) 586296, 5040399
Fax (0411) 586297
Waktu Pendaftaran:
05 April 2010-2 Juli 2010
Pelaksanaan Ujian Masuk
Ujian Tulis Program B
Senin, 5 Juli 2010
Pukul: 08.00 Wita
Wawancara Program B
Rabu, 7 Julli 2010
Pukul : 08.00 Wita
Tempat :
Ruangan Kuliah
Fakultas Kedokteran UNHAS
Informasi :
Program Studi Fisioterapi FK-UNHAS
Telp. (0411) 586297
Djohan Aras : 0811 441593
Imanuel : 0813 4210 2107
Itarini : 0812 4196 2699

Kamis, 24 Desember 2009

Tinjauan Ergonomi, Antropometri dan Biomekanik pada Operator Komputer


TINJAUAN FISIOTERAPI dari SUDUT ERGONOMI, ANTROPOMETRI DAN BIOMEKANIK PADA OPERATOR KOMPUTER

Pengertian Ergonomi:
                Kata ergonomi berasal dari bahasa Latin yaitu Ergon yang artinya kerja dan Nomos artinya hukum alam secara harfiah ergonomi diartikan sebagai Ilmu aturan kerja.
Ergonomi adalah penerapan ilmu-ilmu biologis tentang manusia bersama-sama dengan ilmu-ilmu teknik dan teknologi untuk pencapaian penyesuaian satu sama lain secara optimal dari manusia terhadap pekerjaan yang manfaat dari padanya diukur dengan efisiensi dan kesejahteraan kerja

Ergonomi adalah ilmu beserta penerapannya yang berusaha menyerasikan pekerjaan dan lingkungan terhadap orang atau sebaliknya dengan tujuan tercapainya produktivitas dan efesiensi kerja yang setinggi-tingginya melalui pemanfaatan manusia seoptimal mungkin

Ergonomi merupakan studi ilmiah mengenai hubungan antara orang dengan lingkungan kerjanya. Yang dimaksud dengan lingkungan kerjanya adalah keseluruhan alat, perkakas dan bahan yang dihadapi, lingkungan sekitar tempat kerja, metode yang digunakan dalam bekerja serta pengaturannya kerja baik perorangan maupun kelompok

Ergonomi digunakan oleh berbagai macam ahli/ profesional pada bidangnya: misalnya: ahli anatomi, arsitektur,perangcangan produk industri,fisika, Fisioterapi, Okupasi Terapi,Psikologi, dan teknik industri.

PERANRANCANGAN KURSI 
Ukuran (Dimensi kursi)
       Ukuran-ukuran kursi seharusnya didasarkan pada pada data antropometri yg sesuai, dan ukuran ukurannya ditetapkan.
         Penyesuaian tinggi dan posisi sandaran punggung sgt diharapkan.

KURSI RENDAH.
Kursi rendah digunakan pada bangku dan meja mis; pada pegawai/karyawan yg bekerja sebagai operator komputer.
Tujuan perancangan kursi ini adalah membiarkan kaki untuk istirahat langsung diatas lantai
dan    menghindari tekanan pada sisi bag. Bawah paha

        Kebanyakan dari berat badan seharusnya dipindahkan melalui Ischial tuberosities yaitu tulang yg menonjol pd bag. Pantat.  Sebagian  besar berat dari kaki ditopang oleh seluruh kaki.  Suatu berat yg minimum seharusnya dapat diatasi oleh sisi bagian dalam dari paha, krn kompresi pd bag. Ini akan menghentikan aliran darah & akan menyebabkan kaki menjadi terasa kesemutan.

ANTROPOMETRI

Pengertian :
  Antropometri menurut stevenson (1989) dan Nurmianto (1991) adalah satu kumpulan data numerik yg berhubungan dgn karakteristik fisik tubuh manusia, ukuran, bentuk dan kekuatan serta penerapan dari data tersebut untuk penanganan masalah desain.

UKURAN ANTROPOMETRI POSISI DUDUK
Tinggi badan posisi duduk :
                Pria : 864 mm
                Wanita : 834 mm
Tinggi bahu posisi duduk:
                Pria : 572 mm
                Wanita : 550 mm
 Tinggi siku posisi duduk:
                Pria: 231 Wanita: 229 mm
Tinggi lutut:
                Pria: 496 mm Wnt:472
Tinggi lipat lutut:
                Pria:403 mm Wnt:382

DARI POSISI SAMPING

          Tebal perut :
                Pria : 228 mm
                Wanita : 231 mm 
 Jrk Pantat ke lutut:
                Pria : 545 mm
                Wanita : 537 mm
        Jrk Lpt Ltt ke pantat:
                Pria : 450 mm
                Wanita : 537 mm

DARI BELAKANG:
      Lebar Bahu :
                Pria : 424 mmWanita : 385 mm
  Jarak bentang tangan:
Pria : 1663 mm  Wanita : 1.523 mm
       Lebar Panggul :
Pria : 330 mm
Wanita : 345 mm

BIOMEKANIK
Pengertian Biomekanika
Biomekanika adalah suatu bidang kajian dalam Ergonomi yang berhubungan dengan mekanisme pergerakan tubuh dalam melakukan suatu pekerjaan/aktivitas.
Franklin & Nordin (1980) mendefinisikan biomekanika sebagai berikut:
Biomekanika menggunakan konsep fisika dan teknik untuk menjelaskan gerakan pada
bermacam-macam bagian tubuh manusia dan gaya yang bekerja pada bagian tubuh pada aktifitas
sehari-hari.

Chaffin (1991) membuat istilah biomekanika kerja (Occupational Biomechanic) yang didefinisikan
sebagai berikut:
Biomekanika kerja adalah studi mengenai interaksi pekerja dengan peralatan, mesin dan material,
sehingga pekerja dapat meningkatkan performansinya dan di sisi lain dapat meminimalkan resiko
cedera kerja (muskuloskeletal)

BIOMEKANIK DUDUK
Biomekanik duduk: dibandingkan berdiri duduk mengurangi lumbar lordosis, dan menambah / meningkatkan aktifitas otot-otot belakang, tekanan diskus, dan tekanan pada ischium tuberosities,
                                               >25% BB                =25% BB                      < 25% BB
Pada saat duduk berat badan bag. Atas akan terdistribusi pd tuberositas ischium, Peningkatan
tekanan beban pd spinal, Beban statis pd ligament pd lumbal menyebabkan otot para spinal
spasme & hyperexitabilitas.
                Akumulasi metabolit dari beban statis diduga mempercepat degenerasi diskus dan herniasi.

SIKAP DUDUK
Duduk memerlukan lebih sedikit energi daripada berdiri, karena hal itu dapat mengurangi banyaknya
beban otot statis pada kaki. Sikap duduk membungkuk kerja otot lebih ringan, namun tekanan pada
bantalan saraf lebih besar.

Duduk lama dengan posisi yang salah akan menyebabkan otot-otot punggung menjadi tegang dan
dapat merusak jaringan lunak sekitarnya.

Dan, bila ini berlanjut terus, akan menyebabkan penekanan pada bantalan saraf tulang belakang yang
mengakibatkan hernia nukleus pulposus.

Literatur: dari berbagai sumber



Senin, 19 Oktober 2009

Pemeriksaan sensorik

PEMERIKSAAN SENSORIK DAN INTENSITAS NYERI
Lokalisasi lesi dalam sistem saraf : 
1. Lesi kortikal / Lobus parietal:
  • - Streognosis,
  • - Grafestesia,
  • - Sensasi posisi,
  • - Lokalisasi titik / inattention.
2. Lesi Sub kortikal (Kapsula Interna, GangliaBasalis, thalamus)
  • - Gangguan tusuk jarum,
  • - Gangguan Raba.
3.Lesi pada batang otak :
  • - Penurunan sensasi nyeri
  • - Penurunan sensasi suhu,
  • - Refleks kornea.
4.Lesi pada Medulla Spinalis :
  • -Gangguan sensasi nyeri tusuk jarum,
  • -Gangguan Rasa getar.
a. Lesi Transversal total.
Hyperestesi pada bagian atas dan hilang pada bagian bawah.
b. Separuh dari medulla spinalis,
Hilangnya posisi sendi dan getaran pada sisi yang sama dengan lesi dan hilangnya rasa nyeri dan suhu pada sisi yang berlawanan .
c. Medulla spinalis sentral.
Hilangnya sensasi rasa sakit dan suhu pada tingkat lesi.
d. Columna posterior
Hilangnya posisi sendi dan getaran dengan modalitas nyeri dan suhu yang masih utuh,
e. Sindrom spinalis anterior,
Hilangnya rasa nyeri dan suhu dibawah tingkat lesi, dengan posisi sendi dan getaran yg masih normal.
  • Penyebab umum dari adanya Lesi :
    • Lesi Saraf tunggal : (N. Medianus, N. Ulnaris, N. Radialis).
Neuropati akibat saraf terjepit.
    • Lesi Multipel Saraf Tunggal :
Vaskulitis , Neuropati yg lebih difus.
    • Lesi Saraf perifer : DM, Defisiensi Vit. B1, GBS.
    • Lesi pada Med. Spinalis :
Trauma, Kompresi medulla spinalis oleh tumor.
    • Lesi pada batang otak :
    • Stroke pada batang otak.
    • Gangguan thalamus dan kortikal:
    • Stroke, trauma, tumor otak.
PEMERIKSAAN SENSORIK :
  • Diseluruh bagian tes sensorik, pasien perlu kita ajari terlebih dahulu mengenai tes yg akan dilakukan. Kemudian lakukan tes tersebut. Akhirnya cek apakah pasien telah mengerti dan melakukan tes tersebut dengan semestinya. Untuk semua tes, mulailah dari daerah yang mengalami gangguan sensorik ke daerah yang normal.
  • LENGAN :
Terdapat 4 nervus yang sering terganggu di lengan, yaitu : N. Medianus, N. Ulnaris, N. Radialis, N. Aksilaris.
§ TUNGKAI :
Defisit sensorik pada seseorang lebih sering terlihat pada nervus-nervus berikut :
§ nervus kutaneus lateralis, (paha bag. Dpn dan samping).
§ nervus peroneus communis (betis depan, samping, dan sebagian belakang)
  • Nervus femoralis (paha depan bagian medial sampai ke tungkai bawah.
  • Nervus ischiadicus (paha belakang bag. Tengah sampai ke tungkai bawah).
  • TES SENSORIK PRIMER :
  • RABA HALUS:
Gunakan sepotong kapas, beberapa orang lebih menyukai menggunakan ujung jari. Sentuhkan kapas tersebut diatas kulit.
Cobalah untuk mengulangi rangsangannya.
Peragakan – dengan kedua mata pasien terbuka, tunjukkan padanya bahwa anda akan meraba kulitnya. Mintalah pasien mangatakan “ya” setiap kali dia merasakan sentuhan.
TES – perintahkan pasien untuk menutup matanya, lakukan tes pada daerah kulit yang bermasalah.
• TES NYERI:
Roda bergerigi atau rader sering digunakan Dr. Wartenberg, bisa juga dengan menggunakan peniti atau jarum tajam dan tumpul.
• Peragakan – Tunjukkan kepada pasien apa yg anda kerjakan, Jelaskan bahwa anda ingin agar pasien memberitahukan apakah jarum yang dirasakan tajam atau tumpul. Sentuh area yang terganggu dengan jarum dan kemudian sentuh dengan jarum tumpul pada area yg sehat.
• TES – mintalah pasien menutup kedua matanya kemudian beri rangsangan tajam dan tumpul secara acak, dan perhatikan respon pasien.
• Dermatom – Pada lesi radiks saraf, timbul area penurunan sensasi yang terbatas pada distribusi segmental. Area kulit yang dipersarafi oleh radiks spesifik dinamai dermatom.
• Baal - Sering pasien mengeluh area baal. Pasien harus diinstruksikan untuk melukiskan area ini dengan satu jari tangan. Kemudian pemeriksa harus menempatkan peniti di pusat area baal merangsang ke arah luar sampai pasien memperhatikan rasa nyeri, dengan cara ini batas kehilangan sensorik dapat ditentukan.
• TES SENSASI SUHU:
Isi tabung dengan air hangat dan dingin.
Peragakan – “ saya mau anda mengatakan sesuatu jika saya sentuh anda dengan tabung yang panas atau dingin. Sentuhkan secara acak tabung air panas dan dingin pada tangan, kaki atau daerah kulit yang terganggu.
• TES PROPRIOSEPSI (Indera posisi)
Propriosepsi harus dites pada jari tangan dan kaki bilateral dengan memegang sisi lateral phalanx distal, sementara bagian proksimal phalanx dipertahankan tetap. Mula-mula tes ini dijelaskan kepada pasien dengan matanya terbuka pemeriksa memperlihtakan apa artinya “keatas” dan “kebawah”. Kemudian pasien menutup mata & pemeriksa menggerakkan phalanxnya keatas dan kebawah. Pasien hrs menjawab apakah sendinya ke atas atau ke bawah.
• SENSASI RASA GETAR :
Gunakan garpu tala 128 Hz. Garpu tala dengan frequensi yg lebih tinggi (256 atau 512 Hz) tidak adekuat.
Peragakan – Pastikan pasien mengerti bahwa dia akan merasakan getaran, dengan memukulkan garpu tala dan meletakkannya diatas sternum atau dagu.
TES –mintalah pasien menutup matanya, tempatkan garpu tala pada tonjolan tulang, tanyakan pasien dapat merasakan getaran tersebut.
Letakkan pada sendi metatarsal falangeal, malleolus medialis, tuberositas tibialis, spina iliaka anterior superior, di lengan dan pada ujung jari, masing-masing sendi interfalangeal, pergelangan tangan, siku dan bahu. Bila sensasi bagian distal normal, tes tidak perlu dilakukan pada bagian proksimal
• PEMERIKSAAN SENSORIK SEKUNDER :
• Streognosis :
Identifikasi taktil obyek dinamai sebagai streognosis. Banyak jenis obyek yang lazim dapat digunakan seperti uang logam, penjepit kertas, kunci atau kancing baju. Obyek yg tidak diakrabi harus dihindari. Ketidak mampuan mengenal suatu obyek dinamai astereognois atau agnosia taktil.
• Grafestesia :
Ketidakmampuan mengenal angka atau huruf yang dituliskan pada kulit dinamai grafestesia. Angka sekitar 1 cm tingginya digambarkan pada bantalan jari tangan dengan menggunakan pensil.
Kehilangan kemampuan membedakan angka atau huruf dikenal sebagai grafenestesia.
• Diskriminasi dua titik :
Kemampuan membedakan rangsangan kulit oleh satu ujung benda dari dua ujungdisebut diskriminasi dua titik. Berbagai daerah tubuh bervariasi dalam kemampuan membedakan dua titik pada tingkat derajat pemisahan ber-variasi. Normalnya dua titik terpisah 2– 4 mm dpt dibedakan pd ujung jari tangan, 30-40mm dpt dibedakan pada dorsum pedis. Tes dpt menggunakan kompas, jepitan rambut.
• Sensory inattention.
Mintalah pasien untuk mengatakan kepada anda bagian mana yang anda sentuh (baik dengan kapas ataupun dengan jarum). Sentuhlah pada bagian kanan dan kemudian pada bagian kirinya. Jika pasien dpt membedakan masing-masing secara terpisah, kemudian sentuhkan kedua bagian pada saat yg sama.
Pengertian Nyeri :
• Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan ekstensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya (Tamsuri, 2007).
• Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang didapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan.
Fisiologi Nyeri :
• Reseptor nyeri adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menerima rangsang nyeri. Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor nyeri adalah ujung syaraf bebas dalam kulit yang berespon hanya terhadap stimulus kuat yang secara potensial merusak. Reseptor nyeri disebut juga nosireceptor, secara anatomis reseptor nyeri (nosireceptor) ada yang bermielien dan ada juga yang tidak bermielin dari syaraf perifer.
INTENSITAS NYERI :
• Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual dan kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda oleh dua orang yang berbeda. Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif yang paling mungkin adalah menggunakan respon fisiologik tubuh terhadap nyeri itu sendiri. Namun, pengukuran dengan tehnik ini juga tidak dapat memberikan gambaran pasti tentang nyeri itu sendiri (Tamsuri, 2007).
Pengukuran intensitas nyeri :
1. Skala Intensitas nyeri Deskriptif :





2. Skala Intensitas Nyeri Numerik:








3.

Skala nyeri Analog visual :









4.
Pengukuran Nyeri Wong Baker :








5. Verbal Descriptive Scale ( VDS)
— Pengukuran derajat nyeri dengan tujuh skala, yaitu nilai :
1 = Tidak nyeri
2 = Nyeri sangat ringan
3 = Nyeri ringan
4 = Nyeri tidak begitu berat
5 = Nyeri cukup berat
6 = Nyeri berat
7 = Nyeri hampir tak tertahankan
— Skala Lima Tingkat
merupakan parameter pengukuran derajat nyeri dengan memakai 5 skala, yaitu derajat :
0 = Tidak nyeri, tidak ada rasa nyeri pada waktu istirahat dan aktivitas
1 = Minimal, istirahat tidak ada nyeri, perasaan nyeri timbul sewaktu bekerja lama, berat dan pada penekanan kuat terasa sakit
2 = Ringan, rasa sakit terus menerus atau kadang-kadang timbul, tetapi masih dapat diabaikan /tidak menganggu. LGS normal, pada peneka nan kuat terasa sakit, fleksi dan ekstensi sakit.
3 = Sedang, keluhan seperti pada derajat 2, ditambah keluhan tersebut menganggu aktivi tas dn LGS terganggu.
4 = Berat, nyeri menyulitkan lansia hampir tak tertahankan dan gerakan fleksi/ekstensi hampir tidak ada/tidak mampu.
Daftar Pustaka :
1. Fuller Geraint. Panduan Praktis Pemeriksaan Neurologis. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2008
2. Weiner L. Howard et al. Buku Saku Neurologi. Penerbit Buku Kedokteran EGC.2001.
3.Scherokman et.al. Tes-Tes Diagnostik dalam Neurologi.Penerbit Hipokrates Cet. IV 1996.
4. Suharto, RPT,M.Kes. Instrumen Pengukuran Fisioterapi. Poltekkes Makassar. 2005.
5. Tamsuri Anas, Konsep & Penatalaksanaan Nyeri. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2007.
6. Gaus Syafruddin, Manajemen Nyeri,Bag. Anestesiologi, Perawatan Intensif dan Manajemen Nyeri. FK UNHAS. 2008
7. Irfan, Pengukuran Nyeri. www.daenkpedro.blogspot.com. 2008
8. www.qittun.blogspot.com. Konsep Nyeri.2008

Anatomi Dasar Otak

Anatomi dasar otak.
Otak manusia disusun 100.000.000.000 sel saraf, yang mana satu sel saraf terlalu besar untuk dilihat dengan mata telanjang kita (tanpa bantuan mikroskop), dan hubungan antara neuron dengan neuron lainnya kurang lebih 100-500.000.000.000.000 (seratus-lima ratus trillun) hubungan atau sinaps. Ada beberapa fitur yang berbeda dari otak manusia . Jika dibandingkan dengan jenis mamalia lainnya, kita mempunyai otak relatif cukup besar untuk ukuran tubuh kita. Otak manusia dewasa memiliki berat sekitar satu setengah kilogram sebagai pembandingnya, otak ikan paus bergigi (Sperm whale) mencapai berat sekitar delapan setengah kilogram , otak ikan lumba-lumba (dolphin) sekitar dua kilogram, otak gorilla beratnya sekitar setengah kilo. Anjing peliharaan anda memilki otak seberat tujuh puluh dua gram atau enam persen dari berat total otak Anda. Ukuran otak kita kira-kira sebanding dengan sebuah jeruk manis yang besar, benda menabjubkan seberat satu setengah kilogram ini sebagiab besar terdiri dari air (78%), sedikit lemak (10%), dan bahkan lebih sedikit lagi protein (8%).
Bagian terbesar, yang merupakan porsi terbesar dari otak 80% disebut Cerebrum (Otak Besar). Cerebrum ini terdiri atas milliaran sel dan terbagi menjadi dua bagian. Cerebrum inilah yang bertanggung jawabatas fungsi-fungsi berpikir tingkatan tertinggi dan pengambilan keputusan.

LIMA BAGIAN UTAMA OTAK.

Untuk memahami mengapa otak dianggap terdiri atas 5 bagian, perlu untuk dipahami perkembangan awalnya . Dalam embrio vertebrata jaringan yang pada akhirnya berkembang menjadi CNS dapat dikenali sebagai tube (pembuluh) berisi cairan . Indikasi pertama otak berkembang adalah 3 benjolan yang terjadi di ujung anterior pembuluh itu. Ketiga benjolan itu pada akhirnya berkembang menadi forebrain (otak depan), midbrain (otak tengah), dan hindbrain (otak belakang).
Sebelum lahir, ketiga benjolan awal didalam pembuluh neural itu menjadi 5. Hal ini terjadi karena benjolan otak depan tumbuh menjadi dua benjolan dan demikian pula halnya otak belakang. Dari bagian anterior ke posterior, kelima benjolan yang merupakan bagian otak yang sedang berkembang pada saat bayi dilahirkan adalah telenchephalon, dienchephalon, mesenchephalon, (otak tengah), metenchephalon, dan myelenchephalon. Benjolan-benjolan ini kelak akan berkembang menjadi lima bagian otak dewasa.

TELENCHEPHALON :
1. Korteks serebral :
  • Neokorteks
  • Hipokampus
2. Fisura utama :
  • Fisura sentral
  • Fisura Lateral
  • Fisura Longitudinal
3. Gyrus utama :
  • Girus prasentral
  • Gyrus postcentral
  • Gyrus temporal superior
  • Gyrus Cingulata
4. Empat Lobus :
  • Lobus Frontal
  • Lobus temporal
  • Lobus parietal
  • Lobus oksipital
5. Sistem limbik :
  • Amigdala
  • Hipokampus
  • Fornix
  • Cortex Cingulata
  • Septum
  • Badan mammilaria
6. Basal Ganglia :
  • Amygdala
  • Nucleus Caudatus
  • Putamen
  • Globus Pallidus
7. Comissura Serebral :
  • Corpus Callosum

DIENSEPHALON :
1. Thalamus :
  • Massa intermedia
  • Nuklei genukulata lateral
  • Nuklei genukulata medial
  • Nuklei posterior ventral
2. Hypotalamus, Optic chiasma,
    Pituitary gland :
  • Badan-mamilaria

MESENCHEPHALON :
1. Tektum :
  • Kolikuli superior
  • Kolikuli inferior
2. Tegmentum :
  • Formasi retikuler
  • Aqueduct serebral
  • Periaquaductal gray
  • Substantia nigra
  • Nukleus merah

METENSEPHALON :
1. Formasio Retikuler
2. Pons
3. Cerebellum

MIELENSEPHALON / Medulla
1. Formasio Retikuler.

google.com, pub-6949137849303223, DIRECT, f08c47fec0942fa0